Sabtu, 19 Oktober 2013

BAB I
PENDAHULUAN
      A.    LATAR BELAKANG MASALAH
            Bimbingan dan konseling sebagai ilmu, merupakan suatu hal yang masih baru, apalagi kalau dilihat di Indonesia ini. Tetapi, ini tidaklah berarti bahwa masalah bimbingan dan konseling di Indonesia itu belum ada sama sekali. Sebetulnya masalah bimbingan dan konseling telah lama dikenal di Indonesia. Hanya kalau dilihat dengan bimbingan dan konseling yang kita hadapi sekarang ini, berbeda dalam segi pendekatannya.
Pada saat ini konseling di Indonesia belum sampai pada kondisi yang mapan, namun harus sudah menyesuaikan diri dengan perubahan global yang dipicu oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kemudahan transportasi, dan hilangnya batas-batas struktural yang mengkotak-kotakan manusia berdasarkan negara atau wilayah.

      B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana sejarah perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia?
2.      Bagaimana dinamika perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia?


  
BAB II
PEMBAHASAN

        A.    Sejarah Bimbingan dan Konseling di Indonesia
Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan sistem pendidikan di Indonesia semakin dirasakan pula kebutuhan akan adanya pelayanan khusus bimbingan dan konseling, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kemerdekaan republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, telah menghasilkan berbagai perubahan yang mendasar bagi pelaksanaan pendidikan. Sejak itu, perubahan demi perubahan dalam bidang pendidikan terus-menerus dilancarkan oleh pemerintah untuk mewujudkan cita-cita yang terkandung di dalam pembukaan  Undang-Undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Anak-anak yang masuk sekolah tidak lagi terbatas hanya pada anak-anak yang bersifat dari golongan masyarakat tertentu saja. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan. Oleh karena itu mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan tanpa memandang latar belakangnya (orang tua, ekonomi, kemampuan, dan sebagainya). Akibatnya, sekolah harus menampung semua anak yang beraneka tingkat kemampuan, bakat, minat, dan berbagai latar belakang. Pelajaran klasikal saja tidak mungkin dapat melayani kebutuhan semua anak yang beraneka ragam itu. Untuk itu diperlukan pelayanan khusus yang disebut bimbingan dan konseling.[1]
Dengan diadakannya konferensi FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) di seluruh Indonesia yang berlangsung di Malang sejak tanggal 20-24 Agustus 1960, telah diputuskan bahwa bimbingan dan konseling dimasukkan dalam kurikulum FKIP. Hal tersebut menunjukkan adanya langkah yang lebih maju, yaitu bimbingan dan konseling sebagai suatu ilmu yang dikupas secara ilmiah. Dengan adanya instruksi dari pihak pemerintah (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) untuk melaksanakan bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah, telah membuat bimbingan dan konseling semakin maju di lingkungan sekolah.[2]
Perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia menjadi semakin mantap dengan terjadinya perubahan nama organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) pada tahun 2001. Pemunculan nama ini dilandasi terutama oleh pemikiran bahwa bimbingan dan konseling harus tampil sebagai profesi yang mendapat pengakuan dan kepercayaan publik.[3]
Berdasarkan penelaah yang cukup kritis terhadap perjalanan historis gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia, Prayitni (2003) mengemukakan bahwa periodesasi perkembangan gerakan bimbingan dan penyuluhan di Indonesia melalui lima periode, yaitu: periode prawacana, pengenalan, pemasyarakatan, konsolidasi, dan tinggal landas.
  
,    B.     Dinamika Perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia
Kegiatan bimbingan pada hakikatnya telah berakar dalam seluruh kehidupan dan perjuangan bangsa Indonesia. Akan tetapi patut diakui bahwa bimbingan yang bersifat ilmiah dan professional masih belum berkembang secara mantap atas dasar falsafah Pancasila. Berikut ini akan dibahas mengenai perkembangan usaha bimbingan dalam pendidikan di Indonesia sebelum kemerdekaan, dekade 40-an, dekade 50-an, dekade 60-an, dekade 70-an, dan dekade 80-an. Masing–masing dekade mempunyai karakteristik tertentu sesuai dengan situasi dan keadaan pada masing–masing dekade.
1.      Sebelum Kemerdekaan
Masa sebelum kemerdekaan yaitu pada masa penjajahan belanda dan jepang, kehidupan rakyat Indonesia berada dalam cengkeraman penjajah.[4] Dalam situasi seperti ini upaya bimbingan sudah tentu diarahkan bagi perwujudan dan tujuan pendidikan masa itu yaitu menghasilkan manusia pengabdi penjajah. Akan tetapi rasa cinta akan Nasionalisme rakyat Indonesia sangat besar dan tebal untuk memperjuangkan kemandirian bangsa Indonesia melaui pendidikan, sehingga upaya penjajah banyak mengalami hambatan.
Salah satu diantaranya adalah Taman Siswa yang dipelopori oleh K.H. Dewantara yang gigih menanamkan nasionalisme dikalangan para siswanya. Dengan falsafah yang terkenal yaitu “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani,”. Dari sudut pandang tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan  bimbingan. Dengan dasar itu siswa dibantu untuk mandiri melalui prinsip keteladanan, motivasi, dan bimbingan. Disamping itu, lembaga–lembaga pendidikan di pesantren lebih menekankan upaya memandirikan para santri sebagai manusia yang beragama, berpribadi, bersosial, dan berbudaya, melalui system pendidikan di pesantren.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam situasi pendidikan pada masa penjajahan terkandung modal dasar dan benih–benih untuk berkembangnya bimbingan.

2.      Dekade 40-an sampai dekade 50-an (Perjuangan)
Dalam bidang pendidikan, pada dekade 40-an lebih banyak ditandai dengan perjuangan merealisasikan kemerdekaan melalui pendidikan.[5] Setelah itu, pendidikan mulai ditata oleh Menteri PKK pertama yaitu K.H.Dewantara, pada masa itu, disela–sela perjuangan yang masih gencar pendidikan diupayakan sebagai suatu wujud kemerdekaan. Masalah kebodohan dan keterbelakangan merupakan masalah besar dan tantangan yang paling besar bagi pendidikan pada saat itu. Melaui pendidikan serba darurat maka pada saat itu diupayakan secara bertahan memecahkan masalah besar tadi antara lain melalui pemberantasan buta huruf. Selain itu mendidik bangsa Indonesia agar memahami dirinya sebagai bangsa yang merdeka, sesuai dengan Pancasila dan undang–undang dasar 1945. Hal ini pula yang menjadi focus utama dalam bimbingan pada saat itu.

3.      Dekade 60-an (Perintisan)/Periode I dan II Prawacana dan pengenalan sebelum 1960 sampai 1970-an)
Memasuki dekade 60-an situasi politik kurang begitu menguntungkan dengan klimaksnya pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965. Akan tetapi dalam dekade ini pula lahir orde baru tahun 1966, yang kemudian meluruskan dan menegakkan, serta sudah mulai mantap dalam merintis kearah terwujudnya suatu sistem pendidikan nasional. [6]
Pada periode ini pembicaraan tentang bimbingan dan konseling telah dimulai, terutama oleh para pendidik yang pernah mempelajarinya di luar negeri. Ada peristiwa penting dalam bidang pendidikan diantaranya; Ketetapan MPRS Tahun 1966 tentang Dasar Pendidikan Nasional, Lahirnya Kurikulum SMA Gaya Baru 1964 dengan keharusan pelaksanaan bimbingan dan konseling (bimbingan dan penyuluhan), Lahirnya kurikulum 1968.[7]
Periode ini berpuncak dengan dibukanya Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan pada tahun 1963 di IKIP Bandung (sekarang  UPI : Universitas Pendidikan Indonesia). Pembukaan jurusan ini menandai dimulainya periode kedua yang secara tidak langsung memperkenalkan pelayanan BP Kepada masyarakat akademik, dan pendidik. Sukses periode kedua ini ditandai dengan dua keberhasilan yaitu diluluskannya sejumlah sarjana BP dan semakin dipahami dan dirasakan kebutuhan akan pelayan tersebut.[8]
Keadaan diatas memberikan tantangan bagi keperluan layanan bimbingan dan konseling disekolah sebagai salah satu kelengkapan sistem. Layanan bimbingan diperlukan tidak hanya sebagai sesuatu yang implisit tapi diperlukan sebagai suatu yang eksplisit. Disinilah timbul tantangan untuk mulai merintis pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling yang berprogram dan terorganisasi dengan baik. Beberapa upaya perintisan yang telah dilakukan yaitu:
a.       Anjuran dari para pengelola, agar sekolah–sekolah melaksanakan bimbingan dan konseling .
b.      Dibukanya jurusan bimbingan dan konseling pada beberapa IKIP dan masuknya mata kuliah bimbingan dan konseling di IKIP.
c.       Penyelenggaraan penataran bagi para petugas atau calon petugas bimbingan dan konseling disekolah.
d.      Gerakan memasyarakatkan perlunya bimbingan dan konseling di sekolah.
e.       Publikasi kepustakaan yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling 
4.      Dekade 70-an Penataan (Periode III Pemasyarakatan/1970 sampai 1990-an)
Dalam dekade ini bimbingan diupayakan aktualisasinya melalui penataan penataan legalitas sistem; konsep, dan pelaksanaanya. Pada periode ini diberlakukannya kurikulum 1975 untuk Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Tingkat Atas. Kurikulum ini secara resmi mengintegrasikan kedalamnya layanan BP untuk siswa. Pada tahun ini terbentuk organisasi profesi BP , dengan nama IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia). Pada periode ketiga ini ditandai juga dengan pemberlakuan kurikulum 1984. Dalam kurikulum 1984 ini, pelayanan BP difokuskan pada bidang bimbingan karir. Pada periode ini muncul beberapa permasalahan ,seperti :[9]
a.       Berkembangnya pemahaman yang keliru yaitu mengidentikkan Bimbingan Karir (BK) dengan Bimbingan Penyuluhan (BP), sehingga muncul istilah BK/BP.
b.      Kerancuan dalam mengimplementasikan SK Menpan No.26/Menpan/1989 terhadap penyelenggaraan layanan bimbingan di sekolah. Dalam SK tersebut terimplikasi bahwa semua guru dapat diserahi tugas melaksanakan pelayanan BP. Akibatnya pelayanan BP menjadi kabur, baik pemahaman maupun implementasinya.
Beberapa upaya kegiatan penataan bimbingan selama dekade ini yaitu :[10]
a.       Pemantapan layanan bimbingan dan konseling di sekolah berdasarkan kurikulum 1975.
b.      Kegiatan penataran bagi berbagai pihak yang terlibat dalam bimbingan dan konseling mulai dari tingkat nasional sampai ke daerah.
c.       Pemantapan layanan bimbingan dan konseling untuk menunjang inovasi di PPSP.
d.      Adanya program darurat dalam upaya pengadaan tenaga bimbingan dan konseling antara lain PGSLP yang disempurnakan.
e.       Pemantapan kurikulum jurusan bimbingan dan konseling pada LPTK.
f.       Mulai dibuka program pasca Sarjana untuk bidang bimbingan dan konseling di IKIP Bandung tahun 1977.
g.      Perintisan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di perguruan tinggi.
h.      Kelahiran IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indoesia) di Malang bulan Desember 1975, sebagai wadah para petugas pembimbing.
i.        Berbagai kegiatan seminar dan lokakarya dalam bidang bimbingan baik tingkat internasional, nasional, maupun regional/lokal.
j.        Penelitian–penelitian dalam bidang bimbingan atau bidang–bidang lain yang relevan oleh Balitbang Dikbud, perguruan tinggi, lembaga organisasi atau perseorangan .
Kegiatan–kegiatan diatas dapat dikatakan sebagai bagian dari upaya menata kegiatan bimbingan baik secara konseptual, maupun secara operasional. Melalui upaya ini semua pihak telah merasakan apa, mengapa, bagaimana, dan dimana bimbingan dan konseling.
Dibawah ini dijelaskan lebih detail event-event pada dekade 70-an, diantaranya:
a.       Tahun 1971
Berdirinya proyek perintis sekolah pembangunan (PPSP) pada enam IKIP, yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Malang, dan IKIP Surabaya.
Melalui proyek itu, pelayanan bimbingan dan konseling ikut dikembangkan. Setelah beberapa kali lokakarya yang dihadiri oleh beberapa pakar pada waktu itu, berhasil disusun buku “Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan Penyuluhan pada Proyek Perintis Sekolah Pembangunan”. Selanjutnya buku ini dimodifikasi menjadi buku “Pedoman Operasional Pelayanan Bimbingan pada Proyek-proyek Perintis Sekolah Pembangunan”.
b.      Tahun 1975
Lahir dan berlakunya kurikulum sekolah menengah umum yang disebut Kurikulum SMA 1975 sebagai pengganti kurikulum sebelumnya (Kurikulum 1968). Kurikulum 1975 memuat beberapa pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut, yang salah satu di antaranya adalah buku Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.


c.       Tahun 1975
Diadakannya konferensi Nasional bimbingan I di Malang. Konvensi ini berhasil menelurkan beberapa keputusan penting, yaitu:
1)      Terbukanya organisasi profesi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI);
2)      Tersusunnya AD/ART IPBI, kode etik konselor, dan program kerja IPBI periode 1976-1978. Selanjutnya ini diikuti oleh beberapa kali konvensi dan kongres, yang diadakan secara berturut-turut di Salatiga, Semarang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Padang.
d.      Tahun 1978
Diselenggarakannya program PGSLP dan PGSLA bimbingan dan penyuluhan sebagai suatu upaya pengangkatan tamatan jurusan BP yang dihasilkan oleh IKIP tetapi belum ada jatah jabatannya, di samping untuk mengisi kekosongan jabatan guru bimbingan di sekolah. Agaknya tamatan program-program itulah yang pertama kali diangkat sebagai konselor atau guru bimbingan di sekolah.
e.       Tahun 1989
Lahirnya surat keputusan Menteri Perdayagunaan aparatur Negara No. 026/Menpan/1989 tentang Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan itu disinggung pula adanya pengaturan kenaikan pangkat jabatan guru pembimbing, kendatipun tidak begitu bagus.
f.       Tahun 1989
Lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang ini selanjutnya disusul dengan lahirnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 dan 29 yang secara tegas mencantumkan adanya pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan-satuan pendidikan (masing-masing Bab X Pasal 25, Bab X Pasal 27).
g.      Tahun 1991 s.d. 1993:
1)      Dibentuk divisi-divisi dalam IPBI, yaitu:
a)      Ikatan Pendidikan Konselor Indonesia (IPKON)
b)      Ikatan Guru Pembimbing Indonesia (IGPI)
c)      Ikatan Sarjana Konseling Indonesia (ISKIN)
2)      Diperjuangkan oleh IPBI jabatan fungsional tersendiri bagi petugas bimbingan di sekolah. Diyakini apabila jabatan fungsional tersendiri itu terwujud, maka upaya profesionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling akan lebih terjamin untuk dapat terlaksana dengan berhasil.

5.      Dekade80-an Pemantapan (Periode IV/ Konsolidasi 1990–2000)
Setelah melalui penataan, maka dalam dekade 80-an ini bimbingan diupayakan agar mantap. Dalam dekade ini lebih menekankan dihasilkannya manusia pembangunan yang lebih mandiri yang peka perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peka pula akan pertumbuhan bangsa.[11] Pada periode ini IPBI berusaha keras untuk mengubah kebijakan bahwa pelayanan BP itu dapat dilaksanakan oleh semua guru (seperti terjadi pada periode keempat diatas). Pada periode ini ditandai oleh :[12]
a.       Diubahnya secara resmi kata penyuluhan menjadi konseling, istilah yang dipakai sekarang adalah bimbingan dan konseling (BK).
b.      Pelayanan BK di sekolah hanya dilaksanakan oleh guru pembimbing yang secara khusus ditugasi untuk itu.
c.       Mulai diselenggarakan penataran (nasional dan daerah ) untuk guru–guru pembimbing.
d.      Mulai adanya formasi untuk pengangkatan menjadi guru pembimbing.
e.       Pola pelayanan BK di sekolah dikemas dalam “BK Pola 17”.
f.       Dalam bidang kepengawasan sekolah dibentuk kepengawasan bidang BK.
g.      Dikembangkannya sejumlah panduan pelayanan BK di sekolah yang lebih operasional oleh IPBI.

6.      Periode V (Lepas Landas)
Era lepas landas mempunyai makna sebagai tahap pembangunan yang ditandai dengan kehidupan nasional atas kemampuan dan kekuatan sendiri khususnya aspek ekonomi.[13]Semula diharapkan periode konsolidasi akan dapat mencapai hasil–hasil yang memadai, sehingga mulai tahun 2001 profesi BK di Indonesia sudah dapat tinggal landas. Namun kenyataan menunjukkan bahwa masih ada permasalahan yang belum terkonsolidasi yang berkenaan dengan Sumber Daya Manusia (SDM), kelemahannya berakar dari kondisi untrained, undertrained dan uncommitted para pelaksana layanan, walaupun begitu pada tahun–tahun setelah masa konsolidasi terdapat beberapa peristiwa yang dapat dijadikan tonggak bagi pengembangan profesi konseling menuju era lepas landas yaitu :[14]
1.      Penggantian nama organisasi profesi dari IPBI menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia )
2.      Lahirnya undang–undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang didalamnya termuat ketentuan bahwa konselor termasuk salah satu jenis tenaga pendidik (Bab I Pasal 1 Ayat 4 )
3.      Kerjasama ABKIN dengan Direktorat PLP dalam merumuskan kompetensi guru pembimbing konselor SMP dan sekaligus memberikan pelatihan kepada mereka.

  
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sejak diproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 banyak sekali perubahan pada bidang pendidikan. Sejak saat itu pemerintah juga ikut menyukseskan kegiatan ada kaitannya dengan pendidikan untuk mewujudkan cita-cita yang terkandung di dalam pembukaan  Undang-Undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu pemerintah tidak lagi selektif dalam hal peserta didik, pemerintah tidak menyediakan pendidikan hanya untuk masyarakat tertentu saja tapi untuk semua golongan. Akibatnya, sekolah harus menampung semua anak yang beraneka tingkat kemampuan, bakat, minat, dan berbagai latar belakang.
Selanjutnya bimbingan dan konseling telah diputuskan dalam kurikulum berdasarkan konferensi FKIP di seluruh Indonesia yang dilakukan pada tanggal 20-24 Agustus 1960, itu berarti bahwa bimbingan dan konseling sebagai suatu ilmu yang dikupas secara ilmiah. Dengan adanya instruksi dari pihak pemerintah (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) untuk melaksanakan bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah, telah membuat bimbingan dan konseling semakin maju di lingkungan sekolah.
B.     Dinamika perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia
1.      Sebelum Kemerdekaan
2.      Dekade 60-an (Perintisan)/Periode I dan II Prawacana dan pengenalan sebelum 1960 sampai 1970-an)
3.      Dekade 70-an Penataan (Periode III Pemasyarakatan/1970 sampai 1990-an)
4.      Dekade80-an Pemantapan (Periode IV/ Konsolidasi 1990–2000)
5.      Periode V (Lepas Landas)

  
DAFTAR PUSTAKA

Prayitno.Erman Anti.Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. (Jakarta; PT RINEKA CIPTA. 1999.

Bimo Walgito. Bimbingan dan konseling (studi&karier).(Yogykarta; CV ANDI OFFSET.2010.

Yusuf,Syamsu. Landasan Bimbingan dan Konseling . (Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset. 2010.

Sukardi, Dewa ketut. Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling Di Sekolah. (Jakarta: PT Rineka Cipta). 2008.


























[1]Prayitno, Erman Anti,Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta;PT RINEKA CIPTA, 1999), 351.
[2]Bimo Walgito, Bimbingan dan konseling (studi&karier), (Yogykarta;CV ANDI OFFSET,2010), 17-18.
[3]Yusuf,Syamsu,Landasan Bimbingan dan Konseling . (Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset. 2010)97.
[4] Sukardi, Dewa ketut, Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling Di Sekolah, (Jakarta: PT Rineka Cipta) 21.
[5]Sukardi, Dewa ketut, Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Jakarta: PT Rineka Cipta) 22.
[6] Ibid, 23.
[7] Ibid, 24.
[8]Yusuf,Syamsu,Landasan Bimbingan dan Konseling. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset. 2010)98.
[9]Yusuf,Syamsu,Landasan Bimbingan dan Konseling .(Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset. 2010)98.

[10]Sukardi, Dewa ketut, Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah,(Jakarta: PT Rineka Cipta) 25-26.
[11]Ibid,26.
[12] Yusuf,Syamsu,Landasan Bimbingan dan Konseling .(Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. 2010) 98.
[13] Sukardi, Dewa ketut, Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah,(Jakarta: PT Rineka Cipta) 28.
[14] Yusuf,Syamsu,Landasan Bimbingan dan Konseling.(Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. 2010) 99.